Sistem manajemen konten, atau CMS, adalah aplikasi perangkat lunak yang memungkinkan pengguna membuat, mengedit, dan mengelola konten digital. Contoh konten yang dapat dibuat dan dikelola dengan CMS antara lain teks, dokumen, gambar, dan file multimedia. CMS biasanya mendukung banyak pengguna yang dapat memiliki peran berbeda, seperti editor, administrator, atau penulis. Beberapa CMS juga mendukung teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dapat digunakan untuk menghasilkan konten secara otomatis atau menyarankan konten berdasarkan perilaku pengguna. Secara umum, CMS dapat digunakan untuk mengelola semua jenis konten digital. Namun, beberapa CMS dikhususkan untuk jenis konten atau industri tertentu. Misalnya saja ada CMS yang dirancang khusus untuk mengelola konten website, konten blog, atau konten e-commerce. Ada juga CMS yang dirancang untuk industri tertentu seperti perawatan kesehatan, pendidikan, ritel, atau manufaktur. Di bawah ini adalah beberapa CMS teratas di pasar dan perbandingannya.
Sistem pengelolaan konten secara progresif menerapkan kecerdasan buatan (AI) untuk menyederhanakan moderasi dan personalisasi konten. Secara khusus, AI dapat digunakan untuk kurasi konten, rekomendasi konten, pengiriman konten yang ditargetkan, dan pasar konten. Untuk kurasi konten, AI dapat membantu mengidentifikasi konten baru atau yang sedang tren. Untuk rekomendasi konten, AI dapat membantu menyarankan konten kepada pengguna berdasarkan minatnya. Untuk pengiriman konten yang ditargetkan, AI dapat membantu mengirimkan konten ke kelompok pengguna tertentu. Terakhir, untuk pasar konten, AI dapat membantu mencocokkan pembeli dan penjual konten. Secara keseluruhan, kecerdasan buatan terbukti menjadi alat yang berharga untuk sistem manajemen konten. Dengan memanfaatkan kekuatan AI, penyedia CMS dapat menawarkan pengalaman unik dan personal kepada pelanggannya.
Menganalisis Perjalanan Pelanggan
Perjalanan pelanggan adalah jalur yang mereka ambil – baik online maupun offline – yang mengarah pada pembelian. Biasanya, perjalanan ini mencakup beberapa titik kontak, atau interaksi, dengan suatu merek. Memahami perjalanan pelanggan dapat membantu mengurangi churn atau tingkat di mana pelanggan berhenti berbisnis dengan suatu perusahaan. Dengan memahami bagaimana dan mengapa pelanggan berinteraksi dengan suatu merek, bisnis dapat mengidentifikasi titik-titik perselisihan dan berupaya menguranginya. Misalnya, jika pelanggan berulang kali tidak dapat menghubungi layanan pelanggan melalui telepon, bisnis mungkin ingin berinvestasi pada chatbot untuk memberikan dukungan 24/7. Demikian pula, jika pelanggan sering meninggalkan keranjang belanjanya sebelum menyelesaikan pembelian, bisnis mungkin ingin mengirim email keranjang yang ditinggalkan untuk mengingatkan mereka akan barang yang tertinggal. Mengurangi titik gesekan di setiap tahap perjalanan pelanggan dapat membantu mengurangi churn dan membuat pelanggan datang kembali lagi.
Sistem manajemen konten (CMS) semakin banyak digunakan untuk mengelola konten perjalanan pelanggan. CMS dapat membantu organisasi memusatkan konten, mengontrol pengiriman konten, dan mengotomatiskan pembaruan konten. Selain itu, CMS juga dapat membantu personalisasi dan pengoptimalan konten. Saat pelanggan menjalani perjalanannya, mereka berharap melihat konten yang relevan dan bertarget. CMS dapat membantu memastikan bahwa konten perjalanan pelanggan dioptimalkan untuk setiap tahap perjalanan pelanggan, sehingga lebih besar kemungkinannya bahwa pelanggan akan mendapatkan pengalaman positif dan berkonversi menjadi pelanggan. Selain itu, CMS juga dapat membantu melacak interaksi pelanggan dan menganalisis perilaku pelanggan. Data ini kemudian dapat digunakan untuk lebih meningkatkan perjalanan pelanggan. Dengan menggunakan CMS, organisasi dapat membuat pengelolaan konten lebih mudah dan efisien sekaligus meningkatkan perjalanan pelanggan.
Memaksimalkan Pengalaman Pengguna dan Antarmuka Pengguna
Pengalaman pengguna (UX) yang kuat sangat penting untuk produk atau layanan apa pun yang ingin sukses. UX yang buruk dapat menyebabkan frustrasi pengguna dan, pada akhirnya, penghentian pengguna. Sebaliknya, UX yang dirancang dengan baik dapat membantu mengurangi churn dengan menjaga pengguna tetap terlibat dengan produk atau layanan. Antarmuka pengguna (UI) juga menjadi faktor penting dalam mengurangi churn. UI yang dirancang dengan baik memudahkan pengguna menavigasi produk atau layanan serta menemukan fitur dan informasi yang mereka perlukan. Sebaliknya, UI yang dirancang dengan buruk dapat menyebabkan kebingungan dan frustrasi pengguna, yang pada akhirnya dapat menyebabkan churn. Seperti terlihat pada grafik di bawah ini, faktor terpenting dalam desain website adalah pengguna dapat dengan mudah menemukan apa yang diinginkannya. Dengan berinvestasi pada desain UX dan UI yang kuat, perusahaan dapat membantu memenuhi kebutuhan pelanggan dan mengurangi churn pengguna untuk memastikan produk dan layanan mereka sukses dalam jangka panjang.
AI dapat berperan dalam mengoptimalkan pengalaman pengguna (UX) dan antarmuka pengguna (UI) dari sistem manajemen konten (CMS). AI dapat membantu menilai kebutuhan dan preferensi pengguna, lalu menggunakan informasi tersebut untuk menyesuaikan UI. AI juga dapat membantu menghasilkan konten baru secara otomatis berdasarkan interaksi pengguna dengan CMS. Hal ini dapat membantu menjaga CMS tetap segar dan relevan serta mencegah pengguna menjadi bosan atau frustrasi. Selain itu, AI dapat membantu melacak aktivitas pengguna dan mengidentifikasi area di mana CMS dapat ditingkatkan. Dengan menggunakan AI untuk memaksimalkan UX dan UI, bisnis dapat memastikan bahwa CMS mereka selalu memenuhi kebutuhan penggunanya.
Pengembangan Rekomendasi SEO yang Efektif
Churn adalah tantangan besar bagi bisnis yang mengandalkan lalu lintas web, khususnya dalam hal optimasi mesin pencari (SEO). SEO adalah alat yang dapat membantu mengurangi churn dengan memudahkan orang menemukan situs web atau produk Anda. AI juga dapat digunakan untuk mempelajari perilaku pelanggan dan mengidentifikasi pola yang mungkin menyebabkan churn. Dengan menggunakan AI untuk mempelajari churn, bisnis dapat menerapkan perubahan yang akan membantu mengurangi jumlah churn yang mereka alami. Hasilnya, AI dapat memainkan peran penting dalam mengurangi churn bagi bisnis yang mengandalkan lalu lintas web.
CMS adalah alat populer untuk mengelola konten situs web, tetapi CMS juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi rekomendasi pengoptimalan mesin pencari (SEO) secara real-time. Dengan melacak interaksi pengguna dan menganalisis data mesin pencari, platform CMS dapat memberikan wawasan tentang kata kunci dan frasa mana yang paling mungkin menghasilkan lalu lintas. Berbekal informasi ini, pengguna CMS dapat mengoptimalkan konten mereka secara real-time untuk memastikan peringkatnya tinggi di halaman hasil mesin pencari (SERP). Selain itu, platform CMS dapat menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi peluang SEO baru dan membuat rekomendasi yang sesuai. Hasilnya, pengguna CMS dapat selangkah lebih maju dalam persaingan dan memastikan bahwa konten mereka selalu terlihat oleh calon pelanggan.
Kesimpulan
Sistem manajemen konten (CMS) adalah alat yang berharga untuk bisnis dari semua ukuran. CMS dapat membantu mengurangi churn dengan mengoptimalkan pengalaman pengguna (UX), memaksimalkan antarmuka pengguna (UI), dan memberikan rekomendasi real-time untuk optimasi mesin pencari (SEO). Dengan menggunakan AI untuk meningkatkan sistem manajemen konten, bisnis dapat memastikan bahwa CMS mereka selalu memenuhi kebutuhan penggunanya. Hasilnya, AI dapat memainkan peran penting dalam mengurangi churn bagi bisnis yang mengandalkan lalu lintas web.
Referensi
Solusi Sam
Media Orbit
Forbes
Komunitas Bisnis 2
Forbes
INC
Tanah Mesin Pencari
Komunitas Bisnis 2
Artikel Mengoptimalkan Sistem Manajemen Konten dengan AI untuk Mengurangi Churn berasal dari website Arek Skuza.