Dalam bisnis, ada pepatah yang mengatakan “churn itu bagus.” Kutipan ini berarti bahwa sejumlah pergantian karyawan dan pelanggan adalah hal yang sehat bagi perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang bertumbuh, dan aliran darah baru bermunculan. Namun bagaimana jika churn menjadi terlalu banyak? Di situlah manajemen churn berperan.
Manajemen churn adalah proses menjaga pergantian karyawan dan pelanggan seminimal mungkin agar perusahaan dapat terus berkembang dengan mantap. Ada banyak cara berbeda untuk melakukan hal ini, namun salah satu metode yang paling efektif adalah melalui penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan.
Seperti terlihat pada grafik di bawah, belanja infrastruktur cloud terus meningkat selama beberapa tahun terakhir dan diperkirakan tidak akan berhenti. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana bisnis dapat memanfaatkan kekuatan komputasi awan dan AI. Artikel ini akan membahas lebih dekat bagaimana teknologi ini dapat mendorong manajemen churn.

Manajemen Awan
AI merevolusi manajemen cloud. Alat manajemen cloud yang didukung AI mampu mengotomatiskan tugas yang berulang, mengidentifikasi masalah sebelum menimbulkan masalah, dan memberikan wawasan prediktif yang membantu organisasi mengoptimalkan operasi mereka.
AI juga digunakan untuk meningkatkan manajemen churn. Dengan menganalisis data pelanggan, alat manajemen cloud yang didukung AI dapat mengidentifikasi pelanggan yang berisiko melakukan churn dan mengambil langkah proaktif untuk mencegah mereka keluar. Hasilnya, AI secara signifikan meningkatkan efisiensi dan efektivitas manajemen cloud.
Perusahaan seperti Amazon dan Google sudah menggunakan AI untuk mengelola operasi cloud mereka, dan hasilnya sangat mengesankan. Amazon telah menggunakan AI untuk meningkatkan akurasi perkiraannya hingga lebih dari 50%, dan Google telah menggunakan AI untuk mengurangi waktu yang diperlukan untuk mendeteksi dan memperbaiki masalah pada infrastruktur cloud hingga lebih dari 90%. Ada banyak cara AI dapat digunakan untuk mengelola operasi cloud dalam suatu organisasi. AI dapat digunakan untuk:
– Mengotomatiskan penyediaan dan pengelolaan sumber daya cloud
– Memantau dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya cloud
– Mengidentifikasi dan memperbaiki masalah pada infrastruktur cloud
– Menghasilkan wawasan prediktif tentang kebutuhan cloud di masa depan
– Meningkatkan dukungan pelanggan melalui chatbots dan asisten virtual
Mengolah data
AI semakin banyak digunakan dalam komputasi awan, karena mampu memproses kumpulan data dalam jumlah besar dengan cepat dan efektif. AI dapat digunakan untuk tugas-tugas seperti manajemen churn, yang dapat mengidentifikasi pola perilaku pelanggan untuk mengurangi tingkat churn. Ini juga dapat digunakan untuk pemrosesan data, yang dapat membantu mengatur dan menyusun data dengan lebih efektif. AI juga digunakan untuk mengembangkan layanan dan aplikasi berbasis cloud baru. Misalnya, CEO Apple Tim Cook mengatakan bahwa AI akan menjadi bagian besar dari rencana masa depan perusahaan untuk iCloud.
Sebuah perusahaan bernama CloudMinds menggunakan AI untuk mengembangkan platform berbasis cloud yang akan menyediakan kecerdasan buatan sebagai layanan. Platform ini akan digunakan oleh pengembang untuk membangun aplikasi yang menggunakan pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan untuk menyaring kumpulan data yang besar.
Menurunkan Biaya
AI digunakan dalam komputasi awan untuk menurunkan biaya dalam beberapa cara. Pertama, AI dapat membantu mengidentifikasi dan melacak pola penggunaan sumber daya, sehingga memungkinkan penyedia mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya fisik. Fungsi ini dapat menghasilkan pengurangan yang signifikan baik pada biaya langsung infrastruktur maupun biaya tidak langsung yang terkait dengan konsumsi daya, pendinginan, dan faktor lainnya.
Kedua, AI dapat digunakan untuk mengotomatiskan tugas-tugas seperti penyediaan, pemantauan, dan pemecahan masalah. Otomatisasi dapat mengurangi jumlah waktu yang harus dihabiskan staf TI untuk aktivitas ini, sehingga menghasilkan penghematan biaya lebih lanjut. Terakhir, AI dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi pengoperasian pusat data, sehingga menurunkan konsumsi energi dan emisi karbon secara keseluruhan.
Dengan maraknya AI dan komputasi awan di awal tahun 2000an, biaya penyimpanan menurun sementara biaya ketersediaan data global meningkat. Oleh karena itu, perusahaan kini menghabiskan lebih sedikit biaya penyimpanan dengan kemampuan komputasi awan untuk menyimpan kumpulan data besar dan mengaturnya dengan AI.

Otomatisasi Cerdas
Organisasi menggunakan AI untuk mengotomatiskan berbagai tugas dalam komputasi awan. Otomatisasi dapat mengurangi jumlah waktu yang harus dihabiskan staf TI untuk aktivitas seperti penyediaan, pemantauan, dan pemecahan masalah. Otomatisasi juga dapat meningkatkan efisiensi pengoperasian pusat data, sehingga menurunkan konsumsi energi dan emisi karbon secara keseluruhan.
Salah satu perusahaan yang menggunakan AI untuk otomatisasi cloud adalah HCL Technologies. HCL telah mengembangkan platform yang disebut Automated Cloud Orchestration (ACO), yang menggunakan kecerdasan buatan untuk menyediakan, memantau, dan mengelola sumber daya cloud secara otomatis. ACO dirancang untuk membantu organisasi mengurangi jumlah waktu dan uang yang mereka habiskan untuk mengelola infrastruktur cloud mereka.
Kekurangan
Terlepas dari berbagai manfaat AI dalam komputasi awan, terdapat juga beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, layanan cloud yang didukung AI memerlukan tenaga kerja terampil untuk menyiapkan dan memeliharanya. Persyaratan ini dapat menjadi tantangan bagi organisasi yang tidak memiliki keahlian staf yang diperlukan.
Kedua, layanan cloud berbasis AI bisa jadi mahal. Organisasi perlu mempertimbangkan biaya dan manfaat penggunaan AI dalam infrastruktur cloud mereka sebelum mengambil keputusan. Terakhir, AI dapat menimbulkan risiko keamanan ke dalam lingkungan cloud jika tidak digunakan dengan benar. Organisasi harus mempertimbangkan hal ini dengan cermat
Kedua, aplikasi AI dapat memberikan tekanan pada konektivitas internet, karena aplikasi tersebut sering kali memerlukan data dalam jumlah besar untuk dikirim antara pengguna dan penyedia cloud.
Ketiga, mungkin ada masalah dengan privasi data, karena layanan cloud yang didukung AI sering kali memerlukan akses ke data dalam jumlah besar. Organisasi harus mempertimbangkan risiko ini dengan cermat sebelum menggunakan AI dalam infrastruktur cloud mereka.
Terakhir, mungkin ada masalah jeda waktu terkait dengan layanan cloud yang didukung AI, karena kecerdasan buatan memerlukan waktu untuk belajar dan beradaptasi dengan kumpulan data baru.
Kesimpulan
AI memainkan peran yang semakin penting dalam komputasi awan, dengan potensi mengurangi biaya, meningkatkan efisiensi, dan menyediakan layanan baru dan inovatif untuk mengelola churn. Meskipun terdapat berbagai kelemahan yang harus dipertimbangkan, seperti kebutuhan akan tenaga kerja terampil dan masalah privasi data, manfaat AI dalam komputasi awan dapat berpengaruh bagi banyak bisnis. Seiring dengan terus berkembangnya teknologi, kemungkinan besar AI akan memberikan dampak yang lebih besar pada komputasi awan dan manajemen churn di masa depan.
Referensi
Tuan rumah yang menjengkelkan
Wawasan
Buka laboratorium
Wawasan CB
Forbes
Dunia Jaringan
ZD Bersih
Artikel Manajemen Churn dengan AI dan Cloud Computing berasal dari website Arek Skuza.