Pemerintah Filipina telah mengumumkan rencana perluasan besar-besaran kapasitas pusat data berskala besar, yang bertujuan mencapai 1 GW, naik dari saat ini di bawah 200 MW, menurut Sekretaris DICT Henry Aguda. Pusat data hyperscale, yang dirancang untuk komputasi besar-besaran dan penyimpanan data dengan konektivitas ultra-cepat, sangat penting untuk mendukung lalu lintas global dan layanan komputasi awan.
Untuk menarik investasi dari operator cloud global seperti AWS, Google, dan Microsoft, pemerintah berupaya mengatasi tingginya biaya listrik dan masalah konektivitas. Aguda mengatakan bahwa pada tahun depan, peningkatan pasokan listrik dan kebijakan baru akan membuat Filipina lebih menarik bagi operator hyperscaler. DICT juga berencana membangun tiga pusat data besar pada tahun 2026 dengan biaya PHP2,5 miliar, dengan rencana yang lebih luas untuk membangun sembilan fasilitas selama tiga tahun senilai PHP7,5 miliar. Pusat-pusat domestik ini bertujuan untuk mendukung lokalisasi data, mengurangi ketergantungan pada layanan cloud asing, dan meningkatkan keamanan siber.
Perluasan ini sejalan dengan tujuan negara ini untuk memperkuat infrastruktur digital dan daya saingnya di Asia Tenggara, sehingga memungkinkan Filipina untuk menyamai kapasitas pusat data Singapura yang sangat besar sekaligus mendorong investasi lokal di sektor teknologi.
Pos Filipina menargetkan kapasitas pusat data hyperscale sebesar 1 GW pada tahun 2026 muncul pertama pada Infrastruktur Asia Tenggara.