Pekerja Filipina di Manila mengoperasikan robot dari jarak jauh untuk mengisi kembali rak-rak toko serba ada di Tokyo. Kemitraan ini mewakili model ekonomi baru di mana pekerja fisik dapat dipindahkan ke luar negeri melalui telepresence. Sekitar 60 pekerja di Astro Robotics memantau mesin dan melakukan intervensi ketika masalah terjadi sekitar 4%. Mereka menghasilkan antara $250 dan $315 per bulan. Jepang menghadapi kekurangan tenaga kerja yang parah namun menolak memperluas imigrasi. Memindahkan pekerjaan ke luar negeri melalui robot memecahkan masalah ini sekaligus mengurangi biaya secara signifikan. Pekerja Filipina juga melatih sistem AI yang dirancang untuk sepenuhnya menghilangkan kebutuhan akan operator manusia. Telexistence yang berbasis di Tokyo telah mengumpulkan data ekstensif dari para pekerjanya dan memberikannya kepada perusahaan rintisan di San Francisco yang membangun robot yang sepenuhnya otonom. Kombinasi otomatisasi dan offshoring menciptakan apa yang oleh seorang profesor di Universitas Michigan disebut sebagai “pukulan ganda” bagi para pekerja di negara-negara maju. Hal ini juga mengeksploitasi pekerja di negara-negara berkembang yang membuat alat-alat yang dimaksudkan untuk menggantikan alat-alat tersebut. Pasar agen AI diperkirakan akan tumbuh delapan kali lipat menjadi $43 miliar pada tahun 2030. Pekerjaan yang hanya dilakukan oleh manusia diperkirakan akan turun sebesar 27% dalam lima tahun ke depan.
Baca lebih lanjut cerita ini di Slashdot.